Unconditional Love

December 13th, 2010 by rosa

by Marriage Rebuilders on Sunday, December 12, 2010 at 11:02am
Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit.Semakin hari semakin tidak ada diantara kami.Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor.
Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku dan aku tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan.

Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan.

Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan dengan kuselama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya. Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku.

Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu.Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku..Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati.Jantungku serasa mau berhenti…

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untukVincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu.Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6.Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil. 14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga.Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.

Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.“Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun.”

Bentaklah aku

November 27th, 2010 by rosa

Bentaklah aku sesuka hatimu. Itu kataku dalam hati. Yah aku rasa ini salah satu bentuk perubahaban yang akan terjadi pada diri suamiku. Mungkin ini baru awal permulaan yang kecil. Tapi tetap aja menyakitkan. Bayangkan saja aku cuma ingin menyeka bagian bibirnya karena ada kotoran tiba2 dia membentakku. Kalau begitu tidak usah aku medulikan saja dia. Kesal rasanya…
Memang harus mempersiapkan hati apalagi 5 tahun mendatang pasti akan banyak hal yang terjadi dan munjgkijn akan lebih menyakitkan daripada ini.

Rules for a Happy Marriage (Sepuluh Kebajikan untuk Pernikahan Bahagia)

November 19th, 2010 by rosa

By Marriage Rebuilders on Wednesday, July 28, 2010 at 8:35pm

1. Never both be angry at the same time.
Jangan pernah marah berdua pada waktu yang bersamaan.

2. Never yell at each other unless the house is on fire.
Jangan pernah berteriak kepada satu sama lain kecuali rumah Anda kebakaran.

3. If one of you has to win an argument, let it be your mate.
Jika salah seorang dari kalian harus menjadi pemenang dalam suatu argumen, biarlah pasangan Anda yang menang.

4. If you have to criticize, do it lovingly.
Jika Anda harus memberikan kritik, lakukanlah dengan kasih sayang.

5. Never bring up mistakes of the past.
Jangan pernah membawa-bawa kesalahan masa lalu.

6. Neglect the whole world rather than each other.
Lebih baik mengacuhkan seluruh dunia daripada mengacuhkan satu sama lain.

7. Never go to sleep with an argument unsettled.
Jangan pergi tidur dengan argumen yang belum diselesaikan.

8. At least once every day try to say one kind or complimentary thing to your life’s partner.
Setidaknya satu kali dalam sehari, cobalah untuk mengatakan sebuah kalimat pujian / penghargaan kepada pasangan hidup Anda.

9. When you have done something wrong, be ready to admit it and ask for forgiveness.
Ketika Anda melakukan kesalahan, bersiaplah untuk mengakui kesalahan Anda dan minta maaf.

10. It takes two to make a quarrel, and the one in the wrong is the one who does the most talking.
Membutuhkan dua pihak untuk bertengkar, dan pihak yang salah biasanya adalah pihak yang berbicara paling banyak

Read the Fine Print in Your Marriage Contract by Marriage Rebuilders

November 16th, 2010 by rosa

Marriage is like two cultures colliding. Since both partners grew up in a family with a particular way of doing things, both are bound to violate invisible expectations they don’t even know are in their spouse’s head.

One particular example stands out from my own marriage. As an only child, I was used to being coddled when I was sick. My slightest wish was my parents’ command. My wife, Susan, grew up in a military family. When she and her brother were ill they sat quietly and didn’t complain too much; that was the way their father, a Colonel, behaved when he was sick. No one was waited on in her family. The most anyone did was sniffle quietly and ask for a Kleenex.

When I married Susan I naturally expected — although I never said so — that she would baby me when I got a cold, just as my parents did: she would bring me juice, feel my forehead for signs of fever, and look worried. Of course, she entered our marriage with no such expectation. Although generally a loving person, Susan usually responded to my whimpering with a roll of her eyes and something like, “You can get the juice yourself. For heaven’s sake, quit complaining!‘
“Quit complaining? I can’t believe it!” I’d say. “Don’t you love me? This is my time of need! I would do it for you!”

Such interchanges led to more than a few arguments. After all, my feelings were hurt. She wasn’t living up to my unwritten agreement of what a wife does when her husband is sick.

Marriages are full of such unwritten “agreements,” private agendas about time together, mutual friends, decision-making, how to spend leisure time, managing money, raising children, having sex. And when one partner fails to live up to a clause in the other’s private contract, that other person may feel hurt, taken advantage of, or downright angry.

A friend once told me about his first week of marriage. Like his parents, he seldom sat down for meals. Instead, he would “graze.” He would pick up a drum stick from the refrigerator and wander in to the television set for “dinner,” just like his parents used to do. His wife, who came from a sit-down-together-for-dinner-and-talk culture, started crying. She decided that he must not love her to act the way he did.

Let’s face it, when we marry, there are a million private little contracts just ready for us to break. One may think:
“We’ll spend every evening together.”
“You worry about the children and I’ll worry about the money.”
“I’ll protect you and you make me feel important.”

And if the spouse doesn’t know about or hold the same contract, sparks can fly. The next time you and your spouse have an argument, ask yourselves, “What marital contract did one of us break?”

There’s nothing wrong with having expectations of your spouse or your marriage. That’s natural. It’s just better to make them explicit. Talk about them. While some are worth fighting over, others you can modify or even set aside.
For example, when I get sick these days, my wife and I have compromised. Now Susan will bring me orange juice (like I bring her when she’s sick) as long as I don’t sniffle too loudly or look too pathetic.

Copyright, Fred Piercy, 1998
All Rights Reserved
Fred P. Piercy, Ph.D.
Associate Dean
College of Liberal Arts and Human Sciences (0426)
260 Wallace Hall
Virginia Polytechnic Institute and State University
Blacksburg, VA 24061-0426
USA

Another Story from Marriage Rebuilders

November 15th, 2010 by rosa

Do You Make These Mistakes In Your Family Life?
by Marriage Rebuilders on Saturday, September 25, 2010 at 2:00pm

One day, a friend came up to me with a problem.
Let’s call her Demanding Delia.
Delia was complaining about her husband to me. Next to watching Korean telenovelas, that was her favourite pastime. She said, “Bo, there’s not one romantic bone in my husband’s body. He doesn’t date me. He doesn’t give me flowers. Affection isn’t part of his vocabulary. Oh Bo, can you please talk to my husband?”

Delia is my friend and I could be very frank with her.
I said, “Delia, do you remember when you came to me 7 years ago?”
“I think I do remember,” she said.
“You were also complaining about your husband. You came to me, crying buckets of tears, because you discovered that he was having an affair.”
“Oh, yes…”
“It was the third time you caught him with another girl. And tell me if I’m right, I remember you were complaining that he was also an alcoholic and a gambler.”
“Uh-huh,” she nodded.
“But 6 years ago, God answered your prayer. Your husband came to our prayer meeting, gave his life to God, and is now serving in Church. Overnight, he gave up his girlfriends, his drinking, his smoking, and his gambling.”
“Yes, that was a miracle,” she said.

I told her, “Adultery is against the 6th commandment. Being unromantic isn’t. It’ll be great if he is, and you should tell him what you want. But I think right now, you need to lower your expectations. Accept him for who he is. Nagging him won’t work. Surrender him to God.”

That day, her husband became happier. Because Delia was no longer Demanding Delia but Delighted Delia. Delia made a very simple change in her attitude—but the impact on her relationship was powerful.

-Bo Sanchez-

Tulisan ini membuat saya seperti di jewer.., Saya jadi bersyukur saya ikut milis ini :)

Appreciate Your Loved Ones Without Trying To Fix Them

November 15th, 2010 by rosa

My title says it all.
My title is so powerful, so earth-shaking, I should be charging you a million pesos for divulging this secret to you.
Believe me, if you apply this principle into your life, you will change your entire life—radically.
You’ll have less stress.
You’ll have less fights.
You’ll have more peace.
You’ll be more joyful.
You’ll feel and look younger by ten years.
You’ll probably remove your wrinkles and turn your white hair black again!
Okay, maybe not.
But I’m exaggerating to drive home a point.
It was Dr. James Dobson who said that before you get married, you should have both eyes wide open. But after the marriage ceremony, close one eye.
What does he mean? Before you get married, you should be very careful in evaluating your future spouse. Check everything. Values. Background. Preferences. Reactions. Beliefs. Examine everything!
But when you get married, stop evaluating.
Stop critiquing.
It’s now time to simply accept the other person, give up the hope of fixing the other person.
Remove the robes of the courtroom judge.
Instead, put on the robes of a painter capturing the beauty of a scene. An artist simply accepts what is and nurtures a gratitude for what is there.
When you accept the other person and become grateful towards him, a great miracle happens: The person learns to accept himself too and thus bring healing of his Heart Wound. Changes begin to take place spontaneously.
Here are a few instructions to develop gratitude in your relationship:
Thank your loved one for the small things he does for you, especially all the typical things he always does for you. The next time your loved ones comes home from work, or takes out the trash, or fixes the car, or takes care of the baby, you know what to do.
Thank your loved one for her uniqueness.
Remind yourself that this uniqueness attracted you to this person as friend, spouse, business partner, etc.
Thank your loved one directly. Express it. Don’t hide your gratitude!
I promise: Gratitude will be like oil in the engine of your relationship.
Your relationship will function in a new level in a while.

Bo Sanchez by Marriage Rebuilders

Tulisan yang bagus banget, membuat saya tersentil.

I hate U

November 6th, 2010 by rosa

Yup ternyata di dalam lubuk hati gw yang paling dalam gw masih membencinya, sangat membencinya. Wanita yang dulu bermain api dengan pacarku yang kini sudah menjadi suamiku. Sulit rasanya melupakan kebohongannya.

Walaupun aku berusaha keras bilang kalo aku memaafkannya, tapi rasanya aku nggak bisa membohongi diriku sendiri untuk membencinya. Aku tau mungkin bukan hanya dia yang pernah menjadi selingkuhannya dulu, tapi dari dia akhirnya aku mengetahui kalo memang ternyata selama ini aku dibohongi.

Setelah semua terjadi, setelah aku menjadi istrinya, baru mataku terbuka dan semua yang aku duga tentang prilaku ketidak setiaannya padaku akhirnya terungkap.

Aku sampai bertanya pada Tuhan, apa maksud dari semua ini. Kenapa pernikahanku diijinkan olehNya. Aku tidak mau seumur hidupku penuh dengan ketakutan dan dibayang bayangi kalo suatu saat nanti aku dapati lagi suami berselingkuh dengan wanita lain seperti yang dia lakukan dulu sebelum kami menikah.

Yang bisa aku lakukan saat ini hanya terus memanjatkan doa agar ketakutanku untuk di sakiti lagi tidak akan terjadi lagi.

Aku yakin Tuhan mencintaiku. Dia akan selalu melindungi aku dari segala yang jahat.

hari ini..

November 2nd, 2010 by rosa

Yup aku bahagia, sepertinya itu yang aku rasakan beberapa bulan belakangan ini. Melakukan aktivitas bersama orang yang sangat aku cintai. Pergi ke pasar pagi cari barang dagangan, pergi ke perumahan2 buat beli rumah mungil kami.

Tuhan akankah kebahagiaan ini untuk selamanya…, ketakutan terbesarku adalah suamiku tidak merasakan seperti yang kurasakan. Aku tau banyak keadaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kebiasaan dia, tidak sesuai dengan sifatnya. Terkadang aku jadi merasa semua yang dia lakukan saat ini hanya untuk membalas kebaikan yang pernah ku berikan. Ini terlalu sempurna untukku Tuhan seperti ada yang tersembunyi yang seharusnya aku tau ada apa di balik semua ini.

5 Hal Yang diinginkan Pria Dari Istrinya

November 1st, 2010 by rosa

Pernahkan Anda mencoba menyelami perasaan suami, dan mengetahui apa yang benar-benar diinginkannya. Berikut beberapa hal yang diharapkan seorang pria dari istrinya seperti yang dikutip dari Helium.

Memberi imbalan untuk kerja kerasnya
Segelas es sirup segar buatan Anda sepulang kerja akan membuatnya semangat. Ingatkah Anda seberapa sering suami menuruti kemauan Anda untuk memasang lemari, membeli snack favorit Anda tengah malam dan sebagainya. Segelas es sirup bikinan Anda cukup membuatnya kembali segar, serta merasa dihargai.

Memanjakannya
Setangguh apapun pria, mereka juga ingin dimanja. Perlakukan dia dengan manis, dan turuti semua kemauannya di saat-saat tertentu. Ia akan merasa sangat beruntung memiliki pasangan seperti Anda.

Berhenti mengeluh
Anda selalu mengeluh mengenai pakaian yang tak lagi pas atau lebar pinggang yang terus bertambah? Tahukah Anda bahwa hal itu tak penting di mata suami. Ketimbang merusak mood Anda dan dia dengan mengeluh, lebih baik ajak dia untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Misalnya berolahraga bersama. Tubuh tetap terjaga, pernikahan Anda pun terasa makin menyenangkan.

Membiarkannya bermain dengan si kecil
Secara tidak sadar, Anda sering bersikap terlalu protektif dengan anak-anak. Kadang kala, Anda bisa melarang suami untuk mendekati si kecil hanya karena ia belum mencuci tangan. Padahal ia pun ingin menghabiskan waktu seharian dengan buah hatinya, tanpa larangan-larangan yang keluar dari mulut Anda. Jadi sesekali biarkan suami mengekspresikan rasa cintanya secara bebas dengan si kecil.

Agresif
Kehidupan seksual adalah salah satu faktor penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Sesekali, suami juga ingin Anda yang mengambil inisiatif dan kendali saat bercinta. Rayuan nakal atau gerakan agresif dari Anda akan membuatnya sangat bergairah.

-Amelia Ayu Kinanti - wolipop-

10 Prinsip Salah Hubungan Suami Istri

September 26th, 2010 by rosa

Kuat tidaknya sebuah pernikahan sangat bergantung dengan prinsip-prinsip yang dipegang oleh suami maupun istri. Prinsip yang salah akan membuat bumerang bagi bahtera rumah tangga di kemudian hari, sedangkan prinsip yang benar akan menjadikan pernikahan tetap abadi walaupun berbagai badai menyerang rumah tangga mereka.
Banyak pasangan suami istri Kristiani yang tidak sadar sebenarnya telah mendasarkan pernikahan mereka dengan prinsip-prinsip yang salah. Parahnya, hal ini mereka ketahui setelah pernikahan sudah berjalan 5 tahun atau 10 tahun. Ketika terjadi percekcokkan, bercerai enggan dilakukan karena hal itu tidaklah diperbolehkan, tetapi bila tetap dengan suami atau istri saat ini maka yang terjadi adalah pertengkaran demi pertengkaran.
Oleh karenanya, untuk mengatasi hal ini maka Anda dan pasangan harus mengetahui dan mengecek prinsip-prinsip salah apa yang masih dipegang dan perlu diubah. Lakukan dengan segera dan berjalanlah dalam kebenaran.

Prinsip Salah 1: Pernikahan adalah kontrak.
Ya, pernikahan adalah sebuah pernikahan legal, tetapi di mata Tuhan itu lebih tinggi lagi. Yang benar adalah pernikahan adalah sebuah perjanjian, suatu janji yang tidak dapat dipisahkan. Ini adalah komitmen sekali seumur hidup.

Prinsip Salah 2: Saya menikahi kamu, bukan keluarga kamu.
Kebenarannya adalah Anda tidak hanya menikahi pasangan Anda; Anda juga “menikahi” keluarga Anda sebagai satu paket! Jangan menipu diri Anda sendiri dan menganggap mertua atau ipar Anda bukanlah sebuah masalah. Pasangan Anda dibesarkan di dalam sebuah keluarga yang ingin melihat pasangan Anda menjadi seperti apa hari ini.

Prinsip Salah 3: Saya dapat mengubah pasangan saya.
Salah! Anda tidak dapat mengubah karakter atau kebiasaan pasangan Anda dengan cinta anda yang besar. Yang dapat Anda ubah adalah reaksi Anda terhadap pasangan Anda.

Prinsip Salah 4: Kita terlalu berbeda.
Perbedaan bukanlah masalah utama sepanjang itu bukanlah mengenai nilai-nilai dan moral yang Anda pegang selama ini. ketidaksesuaian tidaklah mematikan sebuah hubungan. Isu utamanya adalah bagaimana Anda menghadapi perbedaan Anda.

Prinsip Salah 5: Cinta saya telah mati terhadap pasangan saya.
Gairah Anda mungkin tidak akan berlangsung selamanya, tetapi cinta tinggal seumur hidup. Anda mungkin tidak selalu merasakan getaran cinta tapi Anda harus menentukan untuk mencintai pasangan Anda seperti diri Anda sendiri.

Prinsip Salah 6: Pernikahan yang lebih tradisional akan menyelamatkan pernikahan kita.
Karena frustrasi, banyak pria merasa bahwa jika hubungan mereka bisa seperti pasangan Brady Bunch, kehidupan akan lebih bahagia. Mereka bingung tentang peran dan tanggung jawab jender. Konsep penundukkan diri sering disalahpahami dan dilecehkan. Kehendak Allah tentang pernikahan yang sesungguhnya adalah kesetaraan jender.

Prinsip Salah 7: Ini adalah saya - Jika Anda tidak suka tinggalkan saya.
Keengganan untuk berubah berakar pada pemberontakan. Ini cara Anda melakukan hal-hal yang melawan Allah. Jika Anda mengatakan Anda tidak dapat berubah justru akan bertentangan dengan pengalaman keselamatan hidup Anda. Hal ini membutuhkan kemauan untuk melihat perilaku Anda dan bekerja ke arah menjadi lebih seperti Kristus.

Prinsip Salah 8: Ia berselingkuh. Kita harus bercerai.
Perselingkuhan adalah hal yang serius dan merusak tetapi itu tidak dapat diperbaiki jika kedua pasangan tidak sepakat untuk mencoba. Harus ada komitmen untuk mengakhiri perselingkuhan, waktu pertobatan, pengampunan dan membangun kembali hubungan. Perjanjian mungkin telah rusak tetapi dapat dipulihkan bila pasangan memilih untuk melakukannya. Ini tidak mudah, tetapi mungkin.

Prinsip Salah 9: Tidak masalah jika saya melakukan dosa karena Allah pasti mengampuni.
Allah akan mengampuni Anda jika Anda bertobat tetapi bukanlah menjadi tidak peduli dengan apa yang Anda lakukan. Perilaku Anda memiliki konsekuensi rohani, jadi jangan menganggap murah kasih karunia Allah.

Prinsip Salah 10: Ini sudah terlalu rusak.
Jika Anda merasa sudah tidak ada harapan masa depan pernikahan Anda sudah tampak suram, percayalah Allah dapat mengubahnya. Dia dapat mengubah hati, melakukan mukjizat dan bekerja dalam situasi yang paling sulit. Dia adalah Allah yang mungkin. Mendekatlah diri kepada-Nya, perantara pernikahan Anda, lakukan pertempuran dengan musuh sejati Anda (setan) dan gharapkan Tuhan untuk bekerja atas nama Anda.
Jika Anda dan pasangan Anda tetap terkait erat dengan Tuhan, pernikahan Anda akan merefleksikan keintiman. Perceraian tidak perlu terjadi. Tidak ada perkawinan yang tidak menghadapi bahaya perceraian tetapi Anda mencegah hal itu. Sudah waktunya untuk memperbaiki statistik perceraian turun dengan perkawinan Anda yang tetap utuh dan dipenuhi kasih Allah.

Source : cbn.com